Kebakaran Hutan Memakan Korban Jiwa

Kebakaran Hutan Memakan Korban Jiwa Kembali

Indohariannews.comKebakaran Hutan Memakan Korban Sudah dua pekan warga Singkawang, Kalimantan Barat merasakan kabut asap akibat kebakaran hutan.

“Saya bangun tidur pagi, mata saya langsung perih. Selain itu jika buka jendela, asap masuk ke rumah semua,” ujar Frino Bariacianur Barus saat dihubungi dari Jakarta,

Pria kelahiran 42 tahun lalu itu menuturkan, kabut asap terasa sangat tebal pada pagi hari. Kala siang dan sore menjelang, kabut asap mulai berkurang lantaran terhembus angin.

“Aktivitas warga di dalam rumah, sekolah diliburkan, tidak tahu sampai kapan sekolah mereka diliburkan. Warga juga pakai masker saat keluar,” ujar dia.

Wilayah Kalimantan Barat saat ini dikepung titik api (hotspot). Dari pantauan titik api seluruh Indonesia dari 1 Agustus sampai 14 September 2019 mencapai 151.862 titik.

Titik api terbanyak tingkat provinsi berada di Kalimantan Tengah. Sedangkan tingkat Kabupaten, dirasakan masyarakat Ketapang, Kalimantan Barat.

Merespons kondisi ini, Menko Polhukam Wiranto mengungkapkan, pemerintah sudah melakukan semua upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Namun karena musim kering, perlu investarisasi terkait kekurangan di lapangan.

“BMKG menyampaikan kemarau masih kurang lebih satu atau dua bulan lagi, tentunya kita putuskan melengkapi kekurangan-kekurangan itu,” ujar Wiranto kepada wartawan,

Wiranto menegaskan, pemerintah bergerak cepat mengatasi masalah kebakaran hutan ini. Kondisi darurat tersebut akan ditangani secara sistematis dan dengan dukungan yang memadai. “Kalau tidak, tentu kita akan kedodoran,” ujarnya.

Untuk menangani kebakaran ini, TNI dilibatkan dengan menerjunkan pesawat untuk hujan buatan. Ada sekitar 52 helikopter yang dikerahkan.

Kebakaran Hutan Memakan Korban

SIMAK JUGA BERITA YANG LAINNYA

“Itu dari pemerintah, menyewa, dari para pemilik perkebunan besar. Semuanya sudah kita minta untuk berpartisipasi,” ungkap Wiranto.

Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menilai, kebakaran hutan ini tak lepas dari adanya fenomena El Nino. Hal itu diperparah dengan kebakaran di Australia yang arah anginnya dari Tenggara menuju Barat Laut.

“Nah sehingga udara kering dari Malaysia menambah potensi kebakaran ini. Karena di Indonesia betul-betul sedang kering, membuat bio massa atau hutan-hutan kita kondisinya cukup kering,” ujar Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Ruandha Agung Sugardiman di Taman Mini, Jakarta,

Untuk jumlah hotspot, KLHK mencatat Kaltim ada sekitar 80 hotspot. Kalteng 600-700 hotspot, Jambi lebih banyak jumlahnya sedangkan Riau mencapai 200-300 hotspot.

“Sekarang yang cukup besar kebakarannya itu di Riau, di Kalbar sudah mulai menurun, yang masih tinggi ini di Kalimantan Tengah. Oleh karena itu kita perlu waspada di sana,” ujar Ruandha.

KLHK menilai kebakaran hutan terjadi akibat faktor manusia. Masih ada cara-cara pembukaan lahan korporasi yang menggunakan tenaga masyarakat. Dan ada pula yang dilakukan masyarakat, karena cara menanam mereka yang masih konvensional.

Pada bagian ini, pemerintah dan pemda akan membina masyarakat agar tidak membakar lahan saat ingin bercocok tanam. Misalnya jerami-jerami tidak dibakar namun diubah jadi kompos atau pupuk.

Kebakaran Hutan Memakan Korban

 

Sumber : INDOHARIANNEWS | Berita Harian Indonesia Terbaru dan Terupdate

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *